Pasar Terapung ~ zakizi berbagi
Foto Saya
Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia
Berbuatlah dengan amanah ...........

Jumat, 27 Agustus 2010

Pasar Terapung


16.50 |

..............www.ZAKIZI.BLOGSPOT.COM ...............

Ratusan pedagang di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, setiap petang sibuk menata lapak dagangannya. Sejenak kemudian, aneka makanan ringan sudah tersaji di lapak untuk dijajakan. Mereka memenuhi jalan protokol di kawasan Jalan Sudirman yang berdekatan dengan kantor Gubernur Kalimantan Selatan.

Pasar ini muncul sekali dalam setahun, yaitu setiap bulan Ramadan. Kegiatan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat setempat ini didukung pula oleh pemerintah daerahnya. Sehingga setiap Ramadan datang, pedagang tumbuh di jalan protokol.

Pasar ini tak hanya tumbuh di darat, juga meramaikan sungai-sungai yang membelah kota seperti di Banjarmasin. Banyak sampan yang penuh buah dan sayuran turut serta meramaikan Pasar Wadai Ramadan menjadi pandangan sehari-hari selama Ramadan ini. 

Tak hanya di Banjarmasin, pasar wadai ini juga muncul di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Wadai dalam bahasa Bangir berarti kue tradisional. Di Palangkaraya, pasar wadai juga berada di jalan-jalan protokol. Bisa dilihat di Jalan Rajawali, Ahmad Yani, dan RTA Milono.

Karena letaknya itu sering terjadi kemacetan saat menjelang buka puasa. Tapi hal itu dianggap lumrah oleh penduduk kota. Kemacetan menjelang berbuka adalah romansa tersendiri bagi mereka yang berpuasa.

Sementara di Murung Raya, Pasar Ramadan mengambil tempat di depan gedung olah raga dan seni Puruk Cahu. Pembukaan pasar, yang sengaja disiapkan Pemerintah Daerah Murung Raya setiap bulan Ramadan, itu dihadiri juga sejumlah tokoh agama Islam dan tokoh masyarakat termasuk para pengunjung pasar.

Pemda Murung Raya menyiapkan 22 los pasar. Seluruh los pasar disediakan kepada para pedagang tanpa dipungut biaya apapun. Alias gratis!

Pasar wadai menjual berbagai penganan dari berbagai suku di Kalimantan. Selain itu, mereka juga menjual masakan Jawa. Misalnya kue bingka, yang terbuat dari berbagai macam bahan: nangka, kentang, pisang, bahkan tape.

Ada kue lapis dengan beragam variasi, sejumlah kue lokal, seperti cucur, juga kolak dan es buah dengan aneka rasa. Sayuran masak dari berbagai daerah dan ikan bakar juga dijual di sini.

Pokoknya di pasar wadai ini tersedia ratusan jenis kue dan masakan untuk berbuka puasa dan keperluan bersahur. Harganya memang relatif lebih mahal dari hari biasa. Orang yang datang ke Kalimantan pada bulan puasa, biasanya merasa tak puas bila tidak mengunjungi pasar wadai dan berbelanja makanan serta  kue khas daerah itu.

Dari sederetan wadai yang terhidang, kue bingka dan amparan tatak merupakan salah satu jenis kue favorit. Satu buah bingka umumnya berharga Rp 3.500 dan sepotong amparan tatak Rp 1.500.

Harga di atas berlaku sepanjang siang hari hingga menjelang waktu berbuka puasa dan bubarnya pasar wadai pada malam hari. 

Biasanya, di pasar juga akan digelar berbagai pertunjukan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat setempat. Biasanya yang bernuansa Islam, misalnya rebana, kasidah dan hadrah.

Tetapi, tradisi pasar wadai ini tak hanya terjadi di Kalimantan semata. Tengok saja ke Tembilahan, Kabupate Indragiri Hilir (Inhil), Riau, di sini juga berlangsung kegiatan yang sama. Pasar wadai ini dibangun di bekas areal kantor Dinas Pendapatan Daerah lama yang terletak di Jalan Gajah Mada Tembilahan.

Uniknya, di pasar yang telah terkenal di Inhil sejak lama ini, para pembeli akan dengan mudah menemukan masakan dan kue serta minuman yang sudah jarang dijual pada hari biasanya. Seperti gangan bakaruh, sejenis sayur asem khas masyarakat Banjar. Sayur ini biasanya cukup digemari masyarakat Inhil, khususnya di kalangan masyarakat Banjar.  Demikian pula dengan kue Kalalapon dan kue Lumpur, nama kue ini mungkin unik bagi kalangan masyarakat luar Inhil, tapi di Inhil merupakan kue khas dan banyak peminatnya


You Might Also Like :


0 komentar:

Silahkan ikuti